Postingan

Dear Future Husband..

Jakarta,                   Sampe ketemu di part pelaminan kita ya. Aku pun sedang berusaha terus belajar, hari demi hari menujumu. Yaa, prosesnya ga mudah sih. Sedikit tertatih di ruang yang berbeda, tapi kita telah berjalan pada jalur yang sama sejauh ini. Setidaknya itu yang bikin kuat dan yakin bahwa kita akan sampai juga. Aku ga sabar deh, kamu gitu juga ga?                Eitss, rindunya disimpan dulu yaa ganteng ;)

Punya Bargaining Power, Akhirnya Resign Juga Di Masa Pandemi!

Hey, Apa kabar? Gimana hari-hari kalian? Tepat 21 hari. Semenjak resign dari kerjaan sebagai penyiar radio, jujur gue ngerasa plong. Keputusan buat resign itu pastinya ga gampang. Ada alasan dan pertimbangan kuat dibalik hal besar itu.  Sebenernya udah 2x gue ngajuin resign. Setelah selesai kontrak pertama, ternyata gue di perpanjang lagi. Padahal maunya selesai aja. Jujur, udah gada lagi pengembangan diri yang gue dapetin di sana dan rasanya itu bukan spectrum gue.  Ga lama, pimpinan dari pusat di Jakarta nelfon. Yap, gue masih diminta buat pikir-pikir lagi. Ternyata gue punya bargaining power juga ya haha. Akhirnya gue oke buat lanjutin kontrak, dengan harapan semuanya bisa lebih baik lagi. Eh, gataunya fee gue naik bahkan hampir mendekati level senior. Gue ngerasa sangat diapresiasi, tp setelah dijalani, harapan gue ga jadi kenyataan. Pun ada beberapa hal lain (off the record) yang bikin gue yakin. Fix lebih baik gue resign aja. Setelah jobless, emg gabisa dipungkiri suntuk...

Denok Semarang 2016: Jangan Minder!

F lavia Domitilla Saraswati resmi melepas tugasnya sebagai Denok Kota Semarang 2016. Tepat pada 16 Juli 2017, Pengalungan selempang kepada Herliansa Chrisnasari Puspita menjadi simbol berakhirnya masa jabatan perempuan yang akrab dipanggil Saras ini. Menilik ke belakang perjalanan gadis dengan tinggi 174 cm ini, tentu tidaklah mudah. "Awalnya aku dikasih tau temen kalo ada pemilihan Denok Kenang, kebetulan aku dari Semarang dan lumayan tertarik karena aku harus cari pengalaman sebanyak-banyaknya," ujar Saras melalui sambungan telepon bersama Reporter Benteng Kampus, (Minggu, 23/7) Sebagai mahasiswi yang sedang menempuh studi Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Saras sempat absen dari perkuliahan untuk mengikuti audisi, pembekalan, hingga grand final Denok Kenang 2016. Persiapan Menjadi Denok Kenang Meski bukan seorang model, Saras telah mempersiapkan diri sebulan sebelum audisi berlangsung. Ia berlatih catwalk dan pose dari temannya seo...

Kepedulian Sosial di Tengah Masifnya Teknologi Informasi

Kemunculan Internet pada awal tahun 90-an cukup membawa angin segar bagi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. Pasalnya, Internet memiliki kekuatan untuk menyebarluaskan pesan dengan cepat dan murah. Pun dengan kehadiran sosial media yang beragam, kian menggeser pola perilaku masyarakat terlebih dalam hal berkomunikasi.  Dilain sisi, kecanggihan teknologi ibarat sebuah koin berwajah ganda. Bila hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan  filterisasi atau menyaring informasi, maka akan menyebabkan disinformasi publik. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk melek media.  Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang, Drs.M.Gifari, M.I.Kom sebagai pengampu mata kuliah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi menuturkan, bahwa saat ini kehidupan masyarakat tak lepas dari teknologi. "Masyarakat sudah beralih untuk menggunakan akses teknologi meski terkadang sifatnya positif ataupun negatif," ungkap Gifari saat ditemui Reporter Benten...

Ketika Pikiran Mulai Berdialog

          Aku tidak ingat sejak kapan, tetapi  ritual  menulis adalah cara melepaskan emosi yang menyenangkan untuk dilakukan selain menangis . Tentu ini menjadi pilihan ketika tak ada seorang pun yang dapat dipercaya dan tak butuh validasi atas kesedihanmu. Terkadang aku juga memakai cara yang lebih estetik seperti menggambar, bersyair dan hal lain tentang seni. Jelas, ini   bisa merefleksikan suasana hati untuk diurai agar lebih manis. Kemudian membuat perasaan yang kacau jauh lebih tenang dalam menerima sebuah fakta yang keberadaannya memilukan.            Seringkali pikiran ikut-ikutan berdialog dengan begitu riuhnya. Bukan untuk membunuh tapi justru melatih bijaksana. Yaa, tentu butuh kemampuan mengendalikan diri yang tidak mudah. Karena tiap-tiap jiwa yang diam, bukan berarti kosong. Tapi saking banyaknya kosakata di kepala, bahkan aku bingung harus mulai menuliskan bab yang mana duluan.