Ketika Pikiran Mulai Berdialog

        Aku tidak ingat sejak kapan, tetapi ritual menulis adalah cara melepaskan emosi yang menyenangkan untuk dilakukan selain menangis. Tentu ini menjadi pilihan ketika tak ada seorang pun yang dapat dipercaya dan tak butuh validasi atas kesedihanmu. Terkadang aku juga memakai cara yang lebih estetik seperti menggambar, bersyair dan hal lain tentang seni. Jelas, ini bisa merefleksikan suasana hati untuk diurai agar lebih manis. Kemudian membuat perasaan yang kacau jauh lebih tenang dalam menerima sebuah fakta yang keberadaannya memilukan. 

        Seringkali pikiran ikut-ikutan berdialog dengan begitu riuhnya. Bukan untuk membunuh tapi justru melatih bijaksana. Yaa, tentu butuh kemampuan mengendalikan diri yang tidak mudah. Karena tiap-tiap jiwa yang diam, bukan berarti kosong. Tapi saking banyaknya kosakata di kepala, bahkan aku bingung harus mulai menuliskan bab yang mana duluan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Future Husband..

Punya Bargaining Power, Akhirnya Resign Juga Di Masa Pandemi!